Pagi
yang cerah, kuawali pagi dengan semangat menjalani rutinitas; urusan rumah,
anak-anak, dan lanjut ke kantor yang tidak jauh dari tempat tinggalku.
“Assalamualaikum”,
sapaku kepada staf di kantor.
“Wa’alaikumsalam”,
jawab Santi dan Eni.
”Lhoh, kok yang dinas
berdua? Bukannya Santi dinas sore?”, tanyaku.
“Oh maaf Buk, saya
tak pulang saja,” sahut Santi cepat.
“Hehe gak usah panik
lah San, santai saja,” jawabku kalem.
Rupanya ada
miskomunikasi sehingga terjadi kesalahan jadwal. It’s
ok, no problemo.
Kemudian
saya masuk ruanganku buka komputer untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan.
Sepuluh menit kemudian, Santi tergopoh-gopoh masuk ruanganku, ”Buk, Mbak Eni kesakitan, pusing dan tidak kuat nahan
sakit, saya bawa ke UGD ya”, kata Santi panik .
Saya kaget dan
langsung beranjak dari tempat dudukku menuju ruang sebelah,”Kenapa Eni?,
tanyaku.
“Demam dan pusing sekali,
Buk. Tidak tahan rasanya. Tadi di tensi santi 70/50, saya ke UGD Buk, biar diantar
Santi”, jawabnya.
“Memang kuat jalan
ke UGD?” tanyaku gak percaya, “wong berdiri saja sempoyongan gitu.” “Santi,
pinjem kursi roda ke UGD ya!” lanjutku.
“Baik buk”, sahut
Santi yang kemudian berlalu.
Tidak berapa lama
Santi datang dengan kursi rodanya. Kupesan Santi untuk urus segala sesuatu
urusan Eni seperti pendaftaran, urus obat atau bila perlu tindakan lain,
sementara saya urus pekerjaan saya, dan ambil alih pekerjaan Eni.
Pengalaman
tersebut adalah contoh cerita sederhana tentang kekeliruan kecil yang dilakukan
orang-orang di sekitar kita. Setiap insan berbeda-beda dalam menyikapinya, ada
yang emosi, marah-marah, namun ada juga yang kalem seperti tokoh “saya” dalam
kisah di atas. Nah, bagaimana agar kita dapat kalem dalam menyikapi sebuah
kesalahan kecil?
Pertama, yakin kepada Allah. Segala sesuatu yang terjadi itu
tidak sia-sia, ada manfaat dan hikmahnya. Dari cerita tersebut kita ketahui,
bahwa kesalahan jadwal oleh Santi seperti disiapkan Allah ntuk membantu
kelancaran tugas di kantor. Seandainya Santi tidak salah jadwal, tentu urusan
kantor akan terganggu atau bahkan tidak selesai. Karena pada dasarnya Allah menjadikan
sesuatu itu ada maksud dan yang terbaik Insya Allah:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat
baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk
bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah Ayat 216).
Kedua, kita harus memahami,
adalah wajar manusia melakukan kesalahan. Dan memang tidak ada satu manusiapun yang luput dan lepas dari kesalahan dan kekeliruan dalam menjalani kehidupan ini. Allah disamping menciptakan manusia dengan kesempurnaannya, juga menciptakan kelemahannya. Dengan kelemahan tersebut, tentu sangat berpotensi melakukan kesalahan-kesalahan. Orang yang baik kata Rasul, bukan orang yang tidak pernah berbuat kesalahan, tetapi orang yang baik itu adalah orang yang menyadari keslahannya, lalu menyesalinya, lantas memohon ampun dan bertaubat kepada Allah seraya berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Demikianlah,
dengan keyakinan yang tinggi kepada Alloh dan pemahaman hakikat penciptaan
manusia dengan kesempurnaan sekaligus kelemahannya, maka kita dapat berbaik
sangka dan berpikir positif atas kesalahan atau kekeliruan kecil yang dilakukan orang-orang di
sekitar kita. Sehingga kita dapat bersikap bijak dalam menghadapinya. Tidak ada
marah, tidak perlu emosi, kalem saja.