Rabu, 18 Januari 2017

IBU

Sudah beberapa lama ini setiap kali aku ke Akung Uti, Uti selalu menyambutku dengan ceria. Beliau selalu tersenyum dan selalu bilang,
"mobilmu anyar yo."
Dan selalu juga kujawab dengan senyum seraya menuntunnya masuk rumah,
"inggih." (Meski sebenarnya mobilnya ya itu- itu juga)
Ibuku tersenyum senang. Aku senang tetapi juga sekaligus sedih. Hiks.

Ibuu...
Meski kau kadang lupa dengan anak-anakmu, tetapi aku lihat engkau selalu happy tanpa beban. Mungkin itu lebih baik bagimu dan bagi kami semua.

Ibuu...
Maafkan anakmu yang belum bisa berbakti....hiks....maafkan...


Rabu, 08 April 2015

Sungguh Sungguh Terjadi

Salah satu yang menarik untuk di baca di koran langganan saya adalah rubrik SST (Sungguh-sungguh terjadi). Biasanya rubrik ini membuat saya tersenyum, akan tetapi kali ini membuat saya mengernyitkan dahi. Saya kutip seperti aslinya sebagai berikut ;

"Saat melihat pekerjaan istri menumpuk, sang suami membantu menjemur pakaian tanpa tanya sang istri di lantai 2. Saat turun ke lantai bawah sang istri bingung karena semua pakaian lenyap dari ember. Setelah tahu pakaiannya dijemur, sang suami langsung dimarahi. Pasalnya, semua pakaian belum dibilas, dan masih penuh sabun."

Bagaimana kalau cerita tersebut kita ubah seperti berikut :
"Saat melihat pekerjaan istri menumpuk, sang suami membantu menjemur pakaian tanpa tanya sang istri di lantai 2. Saat turun ke lantai bawah sang istri bingung karena semua pakaian lenyap dari ember. Setelah tahu pakaiannya dijemur suaminya, sang istri tepok jidad dan tertawa. Pasalnya, semua pakaian belum dibilas, dan masih penuh sabun."


Nah rasanya berbeda bukan? 
smile emoticon
Dari cerita tersebut :
1. Terlihat seorang istri yang baik, tersirat dari cerita bahwa dia yang mengerjakan tumpukan pekerjaan rumah tangga. 
2. Suami yang baik, pengertian, peduli dan sayang kepada istri, terlihat dari niat baiknya membantu istri.


Ada dua hal baik dari pasangan suami istri, namun dalam cerita pertama, tidak disertai adanya kepahaman suami tentang sebuah pekerjaan mencuci. Dan kurangnya kepekaan istri untuk menghargai dan menghormati akan kepedulian suaminya dan malah memarahinya. Sangat disayangkan, mungkin dengan kejadian tersebut suami tidak akan mau membantu istri lagi karena kawatir malah memperburuk suasana. Hmm, bukan akhir yang baik bukan?

Berbeda setelah cerita kita ubah sedikit, bahwa istri tepok jidad dan tertawa setelah tahu nasib cuciannya. Secara tidak langsung reaksi itu menunjukkan, akhlaq seorang istri yang memahami bahwa suaminya peduli kepadanya dan dapat menghargai dan menghormati kepeduliannya, sehingga ekspresi yang keluar spontan adalah gemes (ditunjukkan dengan tepok jidad) dan senang (ditunjukkan dengan tertawa).

Berbeda ending cerita pertama, maka untuk cerita kedua bisa ditebak akan berlanjut baik. Bahwa suami istri akan bicarakan kejadian itu, tertawa bersama, dan mengevaluasi kejadian tersebut. Munkin akan ada kesimpulan, bila akan membantu istri, perlu bertanya dulu karena biasanya suami kurang tahu banyak tentang pekerjaan rumah tangga. Bisa juga, suami akan terpacu atau termotivasi untuk belajar atau mengetahui bagaimana pekerjaan rumah tangga itu. Dan yang pasti hubungan yang harmonis tanpa ada yang terluka adalah endingnya. Bukankah begitu? 
smile emoticon

Demikian, ternyata dalam sebuah pernikahan, Memahami, Menghargai, Menghormati dan Mengevaluasi (4M), itu sangat menunjang bagi keharmonisan hubungan suami istri. Semoga "Sungguh-sunggu terjadi" yang terjadi disetiap keluarga di Indonesia adalah cerita yang kedua ya. Aamiin. 
smile emoticon

Senin, 09 Februari 2015

Valentine's Day?

Jaman saya remaja, saya tidak mengenal apalagi melakukan valentine's day. Entahlah, munkin saya yang lugu atau saya yang kuper, hehe bisa jadi dua-duanya. Alhamdulillah bilapun saya dibilang kuper, ya gakpapa, yang penting kata Bapak Ibu saya, saya dulu termasuk remaja yang baik dan gak macem-macem. :-)

Beda dulu beda sekarang, beda saya remaja dulu beda lagi remaja sekarang. Di swalayan, saya lihat muda-mudi dengan senyum malu-malu memilih-milih batangan coklat. Demi hari kasih sayang katanya. (ouw indah kedengarannya yaa hehe).

Bicara masalah valentine's day, saya jadi ingat sebuah kisah tentang sepasang remaja yang di rundung asmara beberapa tahun lalu. Sebut saja namanya Dewa dan Dewi. Mereka masih SMA klas 3. Dewa bilang kalau dia suka sama Dewi. Dewi tersenyum malu-malu menyatakan kalau demikian juga dia. Dewapun minta ijin main ke rumah Dewi. Dewi mengiyakan dengan syarat bilang atau minta ijin dulu kepada orangtuanya.
"Boleh main kesini, menginappun boleh, tapi orangtuanya suruh kesini minta ijin baik-baik," begitu jawab bapaknya Dewi.
Dewi bilang ke Dewa, dan Dewapun menyetujuinya. Entah bagaimana Dewa meyakinkan orangtuanya, tidak berapa lama Dewa mengabari kalau mereka akan silaturahim ke rumah Dewi.

Singkat cerita, lamaranpun terjadi, dan orangtua Dewi menanyakan kepada Dewi, 
"Mau lanjutin kuliah, cari kerja dulu atau menikah dulu?"
"Menikah dulu," sahut Dewi cepat. Sontak semua hadirin tergelak, dan merahlah pipi Dewi. :D Akhirnya mereka dinikahkan beberapa bulan setelah lamaran, sambil menunggu mereka lulus SMA. 

Waktupun berlalu, Dewa mencari kerja, Dewi melanjutkan kuliah, tentu dengan masih dibantu orangtuanya. Tidak berapa lama, Dewa diterima di sebuah kantor BUMN dengan ijazah SMAnya. Dan setelah selesai kuliah, Dewi diterima PNS sebagai Guru SD.
Masya Allah, saya melihat hal luarbiasa dalam kisah tersebut. 

  1. Sepasang remaja yang saling menyayangi, mencoba memelihara diri dan kehormatan mereka dengan melibatkan orangtuanya dalam permasalahan cinta remajanya.
  2. Orangtua yang memahami situasi dan kemudian mendukung keputusan anak mereka sekaligus memfasilitasinya sehingga mengantarkan anak mereka kepada kehidupan yang mapan.
  3. Keberkahan sebuah pernikahan. Bahwa pernikahan yang dilandasi karena ingin menjaga diri dan kehormatan, akan mendatangkan keberkahan, berupa sakinah mawadah warohmah juga kecukupan kebutuhan materi dan immateri.

Saya berharap tulisan ini dapat menjadi wacana positif bagi remaja. Bahwa kasih sayang itu bukan untuk diumbar di valentine's Day seperti yang terlihat sekarang. Tetapi harus diiringi sebuah tanggungjawab demi kebaikan dirinya di dunia dan di akhirat kelak. Kalau memang sudah mampu menikah, menikah sajalah, tetapi kalau belum mampu, berpuasalah. Cari bekal hidup yang cukup, agar mendapat keberkahan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Bagi Orangtua, tidak mudah memang membuat keputusan yang berani seperti cerita diatas, tetapi paling tidak itu menjadi pemikiran dan renungan buat kita semua, bagaimana caranya agar kita dapat mendidik anak-anak kita menjadi insan yang bertanggungjawab. Insan tangguh yang berilmu, beriman dan bertaqwa. Insan yang berani mengatakan,"say no to valentine's day." Sehingga tidak menyusahkan orangtuanya di kelak kemudian hari.

Kamis, 05 Februari 2015

Resep Awet Muda Dan Cantik

Bertamu di rumah seorang Ibu Cantik yang masih terlihat sangat muda, tidak kukira ternyata beliau berusia 47 tahun. Saya disampingnya seperti adik kakak, 11-12, padahal saya baru akan 40 tahun. Hihihi jadi ketawa sendiri, ini aku yang kelihatan lebih tua 7 tahun atau Ibu itu yang lebih muda 7 tahun ya. :P :D Tidak salahkan bila saya menanyakan resep awet muda dan cantiknya?

Saya suka berpikir positif, jadi bukan saya yang lebih tua, tetapi memang Ibu Cantik itu yang awet muda. Hehehe (menghibur diri)  Kemudian saya tanyakan kepada Ibu Cantik tersebut, apa yang membuatnya awet muda dan tetep cantik di usia segitu. Mungkin suplemen atau perawatan kecantikan, dan demikianlah jawabnya.
"Saya tidak tahu apa saya awet muda atau tidak, tapi teman-teman saya juga bilang demikian," jawab Ibu itu sambil tertawa sejenak dan kemudian melanjutkan bicaranya.
 "Saya melakukan hal biasa saja, membersihkan wajah tiap pagi dan malam hari, memakai cream malam dan siang yang biasa di jual di toko-toko, ke salon perawatan tubuh spa dan facial sebulan sekali, tidak ada suplemen khusus, tetapi memang saya mengurangi makan nasi dan daging merah sejak lama dan minum air putih minimal 2 liter sehari juga berolah raga. Apa mungkin itu pengaruh saya juga tidak tahu. Dan yang paling penting, saya menikmati hidup ini, tidak tegang atau stres. Saya berusaha selalu bersyukur dan bahagia dalam kehidupan saya. Mungkinkah karena itu ya."
Dan pembicaraanpun berhenti sejenak, karena Si Ibu Cantik minta izin untuk menyambut suaminya yang baru datang.  

Aihh, menarik sekali ternyata Si Ibu melakukan 3 hal ; perawatan dari luar, perawatan dari dalam dengan menjaga makan dan minum, dan yang terakhir adalah sikap hidupnya yang selalu bersyukur dan berbahagia. Hihihi tidak sabar untuk mendengarkan penjelasan selanjutnya. Dua hal pertama lebih mudah untuk ditiru saya kira, tetapi tidak mudah untuk yang ketiga. Ada banyak faktor untuk bisa selalu bersyukur dan berbahagia. 

Setelah beberapa saat Si Ibu Cantik kembali dan saya tanyakan, bagaimana agar bisa bersyukur dan berbahagia? Beliau menjelaskan yang kurang lebih seperti berikut:

1. Bersyukur.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Segala nikmat yang ada pada kamu (berasal) dari Allah,” (QS. An-Nahl: 53)
Dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang kita peroleh, baik besar, kecil, banyak maupun sedikit semata-mata karena anugerah dan kemurahan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini dapat mengantar seseorang untuk menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa menggerutu dan keberatan, betapa pun kecilnya nikmat tersebut. Ini yang dinamakan bersyukur dengan hati, yang akan menimbulkan syukur lisan dengan memuji Allah Sang Pemberi nikmat dengan berucap alhamdulillah.

Syukur tidak cukup dengan hati dan lisan tetapi juga dengan perbuatan. Yaitu dengan mempergunakan segala nikmat dan kebaikan yang kita terima di jalan yang diridhoi-Nya, dengan taat kepada perintahNya dan menjauhi laranganNya. Misalnya untuk beribadah kepada Allah, membantu orang lain dari kesulitan, dan perbuatan baik lainnya. Nikmat Allah ini harus kita pergunakan secara proporsional dan tidak berlebihan untuk berbuat kebaikan.

Tidak cukup sampai disitu, syukur itu juga menjaga segala nikmat yang diberikan Allah dari kerusakan. Misalnya: Ketika kita dianugerahi nikmat kesehatan, kewajiban kita adalah menjaga tubuh untuk tetap sehat dan bugar agar terhindar dari penyakit. Demikian pula halnya dengan nikmat iman dan Islam, kita wajib menjaganya agar tidak lemah iman kita dengan senantiasa melakukan ketaatan dan ibadah-ibadah lainnya seperti tilawah, sholat malam dan sebagainya. Juga membentengi diri dari perbuatan-perbuatan yang merusak keimanan.

Kemudian Beliau mengutip firman Allah : 
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-KU), sungguh adzab-Ku sangat pedih,” (QS. Ibrahim: 7).

Saya kira termasuk nikmat awet muda dan cantik akan ditambah juga, hihihi.

2. Berbahagia
Bagaimana dapat berbahagia? 
Dalam surat Al Fushshilat 30-33 Allah berfirman :
"Sesungguhnya mereka yang berkata: "Tuhan kami ialah Allah!" Seterusnya mereka tetap dan teguh pada pendiriannya itu, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka mengucapkan selamat: "Jangan takut, jangan berduka cita! Berbahagialah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan kepadamu!".
"Kamilah pelindung-pelindungmu di dunia dan di akhirat. Dalam surga itu kamu akan mendapat apa yang kamu ingini dan apa yang kamu idam-idamkan!".
Demikianlah sambutan Kemurahan Hati yang dikaruniakan oleh Tuhan yang Maha Pengampun dan Penyayang.

Dengan beriman kepada Allah, kemudian istiqomah, maka kita tidak akan merasa takut, tidak juga bersedih dan kita akan berbahagia karena optimis akan keridhoan Allah. Allah akan menjadi pelindung kita di dunia dan di akhirat. Masya Allah Siapa yang tidak bahagia dunia akhirat, kalau seperti ini. :-)

Ternyata resep awet muda dan cantik Ibu ini sederhana, tetapi dalam prakteknya luar biasa. :-) Kesimpulanku adalah menjadi shalihah maka kita akan awet muda dan cantik di dunia dan akhirat. Insya Allah :-) Semoga kita bisa yaa. Aamiin.

Jumat, 09 Januari 2015

Pete Dan Terasi

Ada sebuah cerita suami istri, bagaimana mereka mengelola perbedaan. Suami tidak suka pete juga terasi, sementara si istri sebaliknya, suka keduanya, pete dan terasi.

Bagaimanapun suami tidak suka terasi, apabila suami pergi atau lewat daerah penghasil terasi, pasti beli untuk oleh-oleh buat istrinya. Pun bila melihat pete sang suami tidak lupa membelikan pete.

Nah bagaimana istrinya? Tentu senang sekali, dan berterimakasih kpd suaminya. Namun meski demikian sukanya si istri kpd pete dan terasi, dia selalu menjaga saat buat sambal terasi dan makan pete, sebisa mungkin dia menjauhkan masakan berbau pete dan terasi dari meja makan saat makan bersama suami.

Perbedaan adalah satu hal wajar dalam kehidupan berumah tangga. Tidak ada satupun pasangan suami-istri di dunia ini yang tidak mempunyai perbedaan satu sama lainnya. Dalam cerita pete dan terasi tersebut, kita dapat mengambil pelajaran, bahwa perbedaan itu dapat dikelola sedemikian rupa, sehingga justru menjadi sarana perekat dan penambah cinta antara suami istri. Tentu saja dengan di dukung adanya saling pengertian, empati, dan saling hormat antar suami-istri.

Memang persamaan dalam hal prinsip sangat penting dalam kehidupan berumahtangga. Bahkan menurut saya harus sama dalam beberapa hal, Seperti kesamaan keyakinan, tujuan, visi dan misi dalam berumah tangga, kesamaan cara pandang terhadap pendidikan anak, bermasyarakat dan bernegara. Namun perbedaan dalam beberapa hal lain pasti tidak dapat dihindari, seperti dalam hal hobi, ketrampilan, karakter, sifat, kesukaan makanan seperti pete dan terasi. Dan hal-hal yg bukan prinsip.

Jadi, kenapa musti menjadikan pete dan terasi sebuah "perbedaan yang bukan prinsip" sebagai kambing hitam ketidak keharmonisan rumahtangga? Wong sejak awal menikah sudah jelas beda kok pasangan suami-istri itu. Satu laki-laki, satunya perempuan. Iya gak sih? :-)

Selasa, 13 Mei 2014

Kesalahan Bukan Berarti Tidak Ada Manfaatnya



Pagi yang cerah, kuawali pagi dengan semangat menjalani rutinitas; urusan rumah, anak-anak, dan lanjut ke kantor yang tidak jauh dari tempat tinggalku.
“Assalamualaikum”, sapaku kepada staf di kantor.
“Wa’alaikumsalam”, jawab Santi dan Eni.
”Lhoh, kok yang dinas berdua? Bukannya Santi dinas sore?”, tanyaku.
“Oh maaf Buk, saya tak pulang saja,” sahut Santi cepat.
“Hehe gak usah panik lah San, santai saja,” jawabku kalem.
Rupanya ada miskomunikasi sehingga terjadi kesalahan jadwal. It’s ok, no problemo.

Kemudian saya masuk ruanganku buka komputer untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Sepuluh menit kemudian, Santi tergopoh-gopoh masuk ruanganku, ”Buk, Mbak Eni kesakitan, pusing dan tidak kuat nahan sakit, saya bawa ke UGD ya”, kata Santi panik .
Saya kaget dan langsung beranjak dari tempat dudukku menuju ruang sebelah,”Kenapa Eni?, tanyaku.
“Demam dan pusing sekali, Buk. Tidak tahan rasanya. Tadi di tensi santi 70/50, saya ke UGD Buk, biar diantar Santi”, jawabnya.
“Memang kuat jalan ke UGD?” tanyaku gak percaya, “wong berdiri saja sempoyongan gitu.” “Santi, pinjem kursi roda ke UGD ya!” lanjutku.
“Baik buk”, sahut Santi yang kemudian berlalu.
Tidak berapa lama Santi datang dengan kursi rodanya. Kupesan Santi untuk urus segala sesuatu urusan Eni seperti pendaftaran, urus obat atau bila perlu tindakan lain, sementara saya urus pekerjaan saya, dan ambil alih pekerjaan Eni.

Pengalaman tersebut adalah contoh cerita sederhana tentang kekeliruan kecil yang dilakukan orang-orang di sekitar kita. Setiap insan berbeda-beda dalam menyikapinya, ada yang emosi, marah-marah, namun ada juga yang kalem seperti tokoh “saya” dalam kisah di atas. Nah, bagaimana agar kita dapat kalem dalam menyikapi sebuah kesalahan kecil?

Pertama, yakin kepada Allah. Segala sesuatu yang terjadi itu tidak sia-sia, ada manfaat dan hikmahnya. Dari cerita tersebut kita ketahui, bahwa kesalahan jadwal oleh Santi seperti disiapkan Allah ntuk membantu kelancaran tugas di kantor. Seandainya Santi tidak salah jadwal, tentu urusan kantor akan terganggu atau bahkan tidak selesai. Karena pada dasarnya Allah menjadikan sesuatu itu ada maksud dan yang terbaik Insya Allah:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah Ayat 216).

Kedua, kita harus memahami, adalah wajar manusia melakukan kesalahan. Dan memang tidak ada satu manusiapun yang luput dan lepas dari kesalahan dan kekeliruan dalam menjalani kehidupan ini. Allah disamping menciptakan manusia dengan kesempurnaannya, juga menciptakan kelemahannya. Dengan kelemahan tersebut, tentu sangat berpotensi melakukan kesalahan-kesalahan. Orang yang baik kata Rasul, bukan orang yang tidak pernah berbuat kesalahan, tetapi orang yang baik itu adalah orang yang menyadari keslahannya, lalu menyesalinya, lantas memohon ampun dan bertaubat kepada Allah seraya berjanji tidak akan mengulanginya lagi. 

Demikianlah, dengan keyakinan yang tinggi kepada Alloh dan pemahaman hakikat penciptaan manusia dengan kesempurnaan sekaligus kelemahannya, maka kita dapat berbaik sangka dan berpikir positif atas kesalahan atau kekeliruan kecil yang dilakukan orang-orang di sekitar kita. Sehingga kita dapat bersikap bijak dalam menghadapinya. Tidak ada marah, tidak perlu emosi, kalem saja.



Kisah Inspiratif Hadiah Istimewa



Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kisah adalah cerita tentang kejadian (riwayat) dalam kehidupan seseorang. Inspirasi adalah ilham. Jadi kisah inspiratif adalah sebuah kisah yang dapat menginspirasi atau mengilhami, menggugah atau menggelitik hati dan pikiran pembaca. Sehingga pembaca dapat mendapat pelajaran dan mengambil manfaat dari kisah tersebut. Kisah itu dapat berupa kisah positif ataupun kisah negatif. Kisah yang baik atau yg positif dapat diambil manfaatnya dan bisa ditiru, sedang yang negatif atau tidak baik cukup diambil hikmahnya dan tidak perlu ditiru.

Berikut adalah kisah penulis.
Baru saja saya mendapat hadiah dari Beliauku. Ini adalah yang ke sekian kali dalam bulan ini. Kutimang hadiah ini, sesaat tercenung mengingat pembicaraan kami semalam;
"Tas Umi bagus kan Pa?"
"Baagus," jawab Papa tersenyum.
"Kata staff di kantor, tas ini pass buat tempat Tab," lanjutku tersenyum juga.
"Hahaha," tawa Papa berderai.
"Yee malah tertawa," sahutku ikut tertawa.
Dan pembicaraan itu selesai saat anak-anak nimbrung bercanda dengan kami.

Kuambil nafas dalam-dalam, kuhembuskan pelan. Jadi ingat kata guru mengajiku, Hati-hati bicara dengan suami, karena seringkali pembicaraan istri diartikan sebuah permintaan yang tentu akan diusahakan untuk dipenuhi. Padahal istri tidak bermaksud meminta. Itu dilakukan karena rasa tanggungjawab suami atas istrinya dan rasa cintakasih suami kepada istrinya.

            Saya semakin tercenung, sebegitunya Beliauku terhadapku. Meleleh airmataku, terharu. Bersyukur, alhamdulillah. Dari situ saya menyadari, ada banyak hal dari diri ini yang harus saya evaluasi, paling tidak ada dua hal:
Pertama, banyak bersyukur atas karunia seorang suami yang penuh kasih. Semoga Allah memberkahi suamiku dan para suami yang demikian. Bagaimana cara bersyukur?
  1. Tambah mendekatkan diri kepada Allah, dengan lebih banyak taat kepada-Nya. Karena siapa lagi yang memberi karunia seorang suami terbaik kalau bukan Allah?  "Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar." (QS. Al Ahzab: 35).
  2.    Lebih berbakti dan taat kepada suami, karena ridho Allah ada pada suami bukan? "Wanita mana saja yang meninggal dunia, kemudian suaminya merasa ridho terhadapnya, maka ia akan masuk surga." (HR. Ibnu Majah dan dihasankan oleh Imam Tirmidzi). Dalam hadits lain dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,"Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktunya, melaksanakan shaum pada bulannya, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja ia kehendaki." (HR. Ibnu Hibban dalam shahihnya).
Kedua, lebih berhati-hati dalam bicara, agar tidak disalah arti oleh suami. Kalau suami mampu memenuhi, yaa tidak mengapa, tetapi bila tidak mampu, betapa berat beban dipundaknya. Sebagai istri yang baik seharusnya meringankan beban, bukan malah menambah beban. Bukankah begitu pembaca?

Demikian sekelumit kisah kecil penulis, sebuah kisah inspiratif yang semoga dapat menjadi inspirasi bagi penulis sendiri dan juga pembaca semuanya, untuk menjadi insan yang lebih baik. Aamiin.