Selasa, 13 Mei 2014

"Rokok dan akibatnya: Diary Sang Zombigaret"


Lihat FB, baca status temen: “Rokok --> faktor resiko kanker independen. Artinya, tidak perlu faktor lain spt usia, genetik, infeksi virus, jenis kelamin dll untuk menyebabkan kanker.
Merokok saja itu sudah cukup beresiko menjadi pengidap kanker.
Tidak merokok itu pilihan bijak.
Sugeng siang...."
Isshh, persetan dengan semua itu. Sebel aku lihat dan baca status Fb temenku itu. Memangnya gampang apa berenti merokok? Kau bukan perokok kayak aku, jadi gak bisa ngerasain gimana rasanya semenit tanpa rokok. Rokok membuat aku dapat konsentrasi kerja. Rokok membuatku nyaman. Lagian ini rokok-rokokku sendiri, beli dari duit-duitku sendiri. Rese’ banget kau urusin hidupku! Kayak hidupmu sudah beres aja! Menyebalkan!
Untuk menghilangkan sebelku kutinggalkan leptopku. Melihat televisi, tentu tidak ketinggalan rokok di sela jari tanganku. Chanel demi chanel kupilih, kulihat sebentar, acara wawancara dengan narasumber tentang bahaya merokok bagi kesehatan. Sial! Kupindah chanel, acara infotainment membicarakan salah satu selebritis pecandu rokok. Isshh, umpatanku keluar, memang tidak ada tema baguskah selain rokok! Kupindah lagi, film televisi. Ok, bagus kayaknya niy. Kunikmati filmnya artisnya cantik dan ganteng, temanya cinta lagi, hehehe, senyumku mengembang. Aku sedikit terhibur, selintas ada iklan, iklan rokok “MEROKOK MEMBUNUHMU.” Kubanting remot “PYAARRR!!!” hancur betebaran. Sial bener aku hari ini, di mana-mana ketemunya orang rese’ yang ngurusin hidup orang lain!
Kulihat Mamaku tergopoh-gopoh menghampiriku, secepat kilat aku kabur ambil kunci motor, dompet dan tentu tidak ketinggalan rokok. Samar ku dengar Mama bicara keras memarahiku. Aku tidak peduli, kupacu motorku kencang. Wuuuiihh, senangnya ngebut di jalanan, senyumku mengembang. Sesaat kemudian dadaku sakit, sesak nafas. Kupegang dadaku konsentrasi pecah, aku kehilangan keseimbangan dan “Braakkk!!”
Kubuka mata, kudengar Mama menangis disisiku sambil memegang tanganku. Ternyata aku sudah ada di ruangan serba putih, Rumah Sakit. Sejenak ku ingat-ingat tadi aku ngebut, setelah itu tidak ingat apa-apa. Kupandangi Mamaku tersayang, gurat kecantikan dan gurat kesedihan nampak jelas diwajahnya. Aku menangis, bukan karena sakit yang aku rasakan di sekujur tubuhku, tetapi karena rasa bersalah yang amat sangat kepada Mamaku. Betapa bodohnya aku, kusia-siakan hidupku selama ini, kusia-siakan segala kasihsayang Mamaku. Tidak pernah kupedulikan nasihatnya tuk berhenti merokok. Kini semua sudah terlambat. Sesal memang datang kemudian. Yaa Tuhan ampuni aku. Aku tergugu.
Kuingat kembali kejadian sekitar dua minggu yang lalu. Semua itu berawal dari batukku yang lama sembuh dan terakhir batuk bercampur darah. Aku dibawa Mama ke Dokter Spesialis Penyakit Dalam. Aku disuruh periksa darah juga rongent. Esok paginya kami kembali ke Dokter, aku disuruh keluar dan tinggalah Mamaku. Aku tidak tahu apa yang dikatakan dokter kepada Mamaku, yang kutahu Mama keluar dengan wajah sembab habis menangis. Mungkinkah ini karena penyakitku?
“Gimana Ma?” Tanyaku.
”Gakpapa, kita dirujuk ke Rumah Sakit Pusat di kota, untuk penyembuhan sakitmu, Mama minta mulai sekarang kau berhenti merokok. Itu demi kebaikanmu,” begitu Mama bilang terdengar datar menahan sesuatu.
Aku hanya diam, munkinkah sakitku karena rokok yang tiap saat menjadi teman setiaku disaat sedih, senang, galau, bete juga sumpek? Huuff, persetan dengan itu semua. Ini diriku dan ini hidupku, mau apa juga terserah aku.
          Dan aku harus terima kenyataan setelah Dokter menyarankanku untuk melakukan radioterapi dan kemoterapi. Aku juga tidak bodoh-bodoh amat, aku bisa browser di internet apa itu radioterapi dan kemoterapi. Bahwa upaya itu dilakukan kepada penderita kanker yang sudah tidak dapat di sembuhkan dengan dioperasi. Berarti juga sakitku sudah stadium lanjut.
           Entahlah dari apa hati dan perasaanku dibuat, datar dan cuek saja mendengar kabar sakitku akibat rokok, munkin karena aku sudah tidak peduli lagi dengan hidupku. Dan aku kembali bersama teman sejatiku, menghisapnya, menikmatinya. Aku sudah menjadi Zombigaret, hidup dalam kematian.



Tulisan ini diikutkan di lomba menulis “Diary Sang Zombigaret”  di www.facebook.com/zombigaret.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar