Lihat FB, baca status temen: “Rokok -->
faktor resiko kanker independen. Artinya, tidak perlu faktor lain spt usia,
genetik, infeksi virus, jenis kelamin dll untuk menyebabkan kanker.
Merokok saja itu sudah cukup beresiko menjadi pengidap kanker.
Tidak merokok itu pilihan bijak.
Sugeng siang...."
Merokok saja itu sudah cukup beresiko menjadi pengidap kanker.
Tidak merokok itu pilihan bijak.
Sugeng siang...."
Isshh, persetan dengan semua itu. Sebel aku lihat dan baca
status Fb temenku itu. Memangnya gampang apa berenti merokok? Kau bukan perokok
kayak aku, jadi gak bisa ngerasain gimana rasanya semenit tanpa rokok. Rokok
membuat aku dapat konsentrasi kerja. Rokok membuatku nyaman. Lagian ini
rokok-rokokku sendiri, beli dari duit-duitku sendiri. Rese’ banget kau urusin
hidupku! Kayak hidupmu sudah beres aja! Menyebalkan!
Untuk menghilangkan sebelku kutinggalkan leptopku. Melihat
televisi, tentu tidak ketinggalan rokok di sela jari tanganku. Chanel demi
chanel kupilih, kulihat sebentar, acara wawancara dengan narasumber tentang
bahaya merokok bagi kesehatan. Sial! Kupindah chanel, acara infotainment
membicarakan salah satu selebritis pecandu rokok. Isshh, umpatanku keluar, memang
tidak ada tema baguskah selain rokok! Kupindah lagi, film televisi. Ok, bagus
kayaknya niy. Kunikmati filmnya artisnya cantik dan ganteng, temanya cinta
lagi, hehehe, senyumku mengembang. Aku sedikit terhibur, selintas ada iklan,
iklan rokok “MEROKOK MEMBUNUHMU.” Kubanting remot “PYAARRR!!!” hancur
betebaran. Sial bener aku hari ini, di mana-mana ketemunya orang rese’ yang ngurusin
hidup orang lain!
Kulihat Mamaku tergopoh-gopoh menghampiriku, secepat kilat
aku kabur ambil kunci motor, dompet dan tentu tidak ketinggalan rokok. Samar ku
dengar Mama bicara keras memarahiku. Aku tidak peduli, kupacu motorku kencang.
Wuuuiihh, senangnya ngebut di jalanan, senyumku mengembang. Sesaat kemudian
dadaku sakit, sesak nafas. Kupegang dadaku konsentrasi pecah, aku kehilangan
keseimbangan dan “Braakkk!!”
Kubuka mata, kudengar Mama menangis disisiku sambil memegang
tanganku. Ternyata aku sudah ada di ruangan serba putih, Rumah Sakit. Sejenak
ku ingat-ingat tadi aku ngebut, setelah itu tidak ingat apa-apa. Kupandangi
Mamaku tersayang, gurat kecantikan dan gurat kesedihan nampak jelas diwajahnya.
Aku menangis, bukan karena sakit yang aku rasakan di sekujur tubuhku, tetapi
karena rasa bersalah yang amat sangat kepada Mamaku. Betapa bodohnya aku,
kusia-siakan hidupku selama ini, kusia-siakan segala kasihsayang Mamaku. Tidak pernah kupedulikan nasihatnya tuk
berhenti merokok. Kini semua sudah terlambat. Sesal memang datang kemudian. Yaa Tuhan ampuni aku. Aku tergugu.
Kuingat kembali kejadian sekitar dua minggu yang lalu. Semua
itu berawal dari batukku yang lama sembuh dan terakhir batuk bercampur darah.
Aku dibawa Mama ke Dokter Spesialis Penyakit Dalam. Aku disuruh periksa darah
juga rongent. Esok paginya kami kembali ke Dokter, aku disuruh keluar dan tinggalah
Mamaku. Aku tidak tahu apa yang dikatakan dokter kepada Mamaku, yang kutahu
Mama keluar dengan wajah sembab habis menangis. Mungkinkah ini karena
penyakitku?
“Gimana Ma?”
Tanyaku.
”Gakpapa, kita
dirujuk ke Rumah Sakit Pusat di kota, untuk penyembuhan sakitmu, Mama minta
mulai sekarang kau berhenti merokok. Itu demi kebaikanmu,” begitu Mama bilang
terdengar datar menahan sesuatu.
Aku hanya diam,
munkinkah sakitku karena rokok yang tiap saat menjadi teman setiaku disaat
sedih, senang, galau, bete juga sumpek? Huuff, persetan dengan itu semua. Ini
diriku dan ini hidupku, mau apa juga terserah aku.
Dan aku harus terima kenyataan
setelah Dokter menyarankanku untuk melakukan radioterapi dan kemoterapi.
Aku juga tidak bodoh-bodoh amat, aku bisa browser di internet apa itu
radioterapi dan kemoterapi. Bahwa upaya itu dilakukan kepada penderita kanker
yang sudah tidak dapat di sembuhkan dengan dioperasi. Berarti juga sakitku
sudah stadium lanjut.
Entahlah dari apa hati dan
perasaanku dibuat, datar dan cuek saja mendengar kabar sakitku akibat rokok, munkin karena aku
sudah tidak peduli lagi dengan hidupku. Dan aku kembali bersama teman sejatiku,
menghisapnya, menikmatinya. Aku sudah menjadi Zombigaret, hidup
dalam kematian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar