Kamis, 19 Desember 2013

Sedikit ceritaku tentang "Film Soekarno"



Saya suka dan sangat bangga pada para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan indonesia...oleh karena itu saya menyempatkan diri menonton film Soekarno. Awalnya sih saya rencanakan menonton akhir Desember tetapi berhubung di media dikatakan bahwa film tersebut akan ditarik dari peredaran karena gugatan keluarga Soekarno maka saya menonton malam minggu kemaren....ehh tepatnya di traktir nonton 

Diawal saya berharap akan menonton film yg menggelorakan semangat perjuangan dan nasionalisme, berharap akan melihat sosok Berwibawa penuh kharisma, berkepribadian kuat, sosok yang memiliki jiwa kepemimpinan hebat dan sisi positif lainnya.


Aku tidak dapat berlama-lama berimajinasi karena tidak lama kemudian Film pun dimulai.... Diawali dengan kibaran Sang Saka Merah Putih aku berdiri,  bersemangat menyanyikan lagu kebangsaan ku "Indonesia Raya".


Setelah selesai menyanyi, aku duduk manis, menghela nafas panjang, bersiap konsentrasi menikmati film dengan harap dan rasa penasaran yang susah untuk aku ceritakan..

Waktu berlalu...berlalu...berlalu....dan aku mulai kehilangan semangatku...hehe...seperti nonton sinetron aja....gak ada bekasnya...gak ada maknanya.....gak ada ruh perjuangannya...gak ada ruh semangat yang menggelorakan jiwa...gak ada semua yang diawal aku mengharapkannya....

Tidak ada Soekarno yang seperti aq bayangkan sebelumya..... Yang ada adalah Sukarno yang tidak istimewa dan biasa-biasa saja, padahal saya tahu Soekarno adalah sosok yang hebat.....dan itu tidak nampak di film ini. Yang nampak adalah sosok Sukarno yang lemah, bukan sosok sukarno yang cerdas, bukan sosok Sukarno yang seorang pemimpin karismatik. Sering sekali digambarkan, pada saat-saat penting sukarno malah ngelamun karena patah hati. Yah saya pikir manusiawi juga sih Sukarno jatuh cinta kemudian tidak bisa berkonsentrasi, tapi seharusnya tidak perlu dimunculkan sesering itu....tidak sesuai dengan karakter Soekarno yang seharusnya diharapkan muncul di film ini. Malah koyo dadi film drama. Tidak menarik.

Saya tidak merasakan gregetnya film ini....tidak ada hikmah yang bisa saya ambil seperti saat saya nonton Sang Kyai .....kecuali sedikit saja di ujung akhir film. Diakhir, saya melihat sosok karakter pemimpin nya Sukarno muncul, yaitu saat Hatta menceritakan kegalauan atau kegamangannya bila nanti diamanahi memimpin negri ini...dan Hatta bertanya, “apa kita bisa ?” apa kamu bisa ?” dan tanpa seling detik Sukarno bilang “Bisa !”. Inilah ciri seorang pemimpin yaitu cepat mengambil keputusan. I like That....

Dan satu lagi....saat akan memproklamirkan kemerdekaan Sukarno sedang sakit keras, digambarkan sukarno menunggu waktu sambil tiduran, yang artinya sukarno benar benar sakit keras. Tetapi saat dia harus memproklamirkan maka dia bangkit dan lupakan sakitnya kemudian bicara lantang dengan semangat layaknya biasa dia berpidato. (Hmm....Pemimpin yang hebat bukan ?  )

Di sisi lain, Film ini tidak bisa menggambarkan besarnya Ormas SI (Sarikat Islam) yang saat itu kita tahu sangat berpengaruh. Pertama , kok tidak ada Salam saat tokoh SI berpidato. Tidak ada juga pekikan “Allohu Akbar” yg selalu menjadi jargon SI. Kedua, Tokoh Islam yang dipilih dalam film ini seperti (maaf) orang biasa yg di dandani pakaian Kyai, tidak menggambarkan sosok ulama yang biasanya kharismatik. 


Saya lihat juga di film ini, ada adegan yang menurut saya berlebihan. Pertama, pada saat pembuatan naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda, ada adegan lucu-lucuan dari anggota Peta dalam melayani Sukarno Hatta dan klo tidak salah Ahmad Subarjo. Dalam situasi begitu saya kira semua serius tidak kepikiran lucu lucuan. Kedua Yaitu saat Rakyat menunggu Sukarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan, ada adegan seseorang tidak sengaja menginjak kaki dan terjadi perselisihan, dalam situasi genting seperti itu, kok ada yang kepikiran ego mau berkelahi gara-gara keinjek kaki.

Hehe...yang terakhir...mohon maaf mungkin tulisan ini tidak menarik...tapi mungkin bisa menjadikan gambaran kenapa keluarga Soekarno menggugat untuk menarik beredarnya film ini, dan saya setuju dengan langkah keluarga untuk menggugat. 

Mohon maaf juga bila ada yang tidak sependapat dengan saya, ini hanya salah satu penilaian dari sekian banyak penilaian, mungkin ada yang bilang bagus yaa sah-sah saja, namanya juga tontonan publik yang dilihat banyak orang, yang tentunya penilaian masing-masing orang juga berbeda-beda. 


Yang Terakhir lagi.....(mau terakhir berapa kali siy niy hee )...Bener deh ini yang terakhir .....adalah komentar saya.... yaitu ....”Menurut saya Film ini TIDAK BAGUS maaf Hanung saya harus mengatakannya”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar