Kamis, 19 Desember 2013

"Terimakasihku Kepada Ibu Mertuaku"


Sebelumnya, aku adalah seorang istri manja yang kurang mandiri. Setelah menikah Suamiku berperan banyak dalam mendidikku menjadi lebih baik, alhamdulillah aku punya suami hebat . Maaf kepada pembaca, bisa jadi suamiku bukanlah apa-apa di mata para pembaca tetapi bagiku beliau adalah suami hebatku.

Ada pepatah mengatakan dibalik laki-laki hebat  ada perempuan hebat. Dan dibalik kehebatan suamiku ada perempuan hebat yaitu ibuk mertuaku. Sentuhan doanya, kasih sayangnya, jerih payahnya, tetesan keringatnya, cucuran air matanya adalah sebab dari kehebatan anaknya yang kini menjadi suami hebatku.

Suamiku telah dikandungnya, dilahirkannya, disusuinya, dirawatnya dengan penuh kasih sayang, dididik dengan baik hingga dewasa. Kemudian setelah bekerja tidak pernah ibuk meminta bayaran atas semua yang telah di lakukannya selama ini, seperti sebuah lagu :

Kasih Ibu,
kepada beta,
tak terhingga sepanjang masa,
hanya memberi
tak harap kembali
bagai sang surya menyinari dunia.

Dan anak yang disayanginya itu kemudian menikah, cinta dan kasihsayang anaknya diberikan penuh kepada istrinya, juga semua materi yang didapatkan semua diberikan kepada istrinya yang notabene tidak pernah mempunyai andil hingga keberhasilan suaminya sampai sebelum  mereka menikah.

Terimakasih kepada ibuk mertuaku yang rela cinta dan kasihsayang anaknya aku ambil, yang rela hasil jerih payah anaknya juga aku ambil, tetapi ibuk tidak pernah memprotes. Jadi, bagaimana mungkin aku tidak berterimakasih kepada ibuk mertuaku ?!

Jadi tidak berlebihan apabila aku menemaninya ngobrol sambil membantu kupas kacang tanah kering hasil panen, kemudian kubilang,
 “Maturnuwun ibuk, maturnuwun telah mendidik putra ibu menjadi lelaki hebat  juga sholih (Insya Alloh) sehingga saya bahagia dan  bangga menjadi istrinya”

Tanpa menafikan bapakku, walau bagaimanapun bapak juga punya banyak andil dalam kehebatan suamiku :
Dari Abu Hurairah ra beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah Saw dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi Saw menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi Saw menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi Saw menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari Muslim)

Imam Al-Qurthubi menjelaskan, “Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus 3x lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi Saw menyebutkan kata ibu sebanyak 3x, sementara kata ayah hanya sekali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalam menghadapi masa hamil, ketika melahirkan, pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi X : 239. al-Qadhi Iyadh menyatakan bahwa ibu memiliki keutamaan yang lebih besar dibandingkan ayah)

Dan tidak berlebihan juga kiranya bagi sebagai seorang istri, bila nanti terjadi selisih paham atau yang semacamnya dengan ibuk, saat itu bilang kepada suami  ;
“Maaf ayah, Bunda sedang berselisih paham dengan ibuk, Bunda jengkel, bunda marah, tetapi bunda sadar Ayah adalah milik ibu, surga Ayah ada ditelapak kaki ibuk. Bunda hanya ingin cerita Bunda hanya ingin didengerin untuk melepaskan kekesalan bunda., dan tolong doakan bunda dan ibuk dapat kembali menjadi baik-baik layaknya seorang ibu dengan anak kandungnya”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar