Senin, 10 Februari 2014

---Antara Rambutan Klengkeng Dan Pernikahan---



Suatu saat Beliauku bawa oleh-oleh rambutan klengkeng. Rambutan klengkeng adalah rambutan yang sangat manis, meski masih hijau rasanya tetap manis. Munkin tulah kenapa disebut rambutan klengkeng. Anak-anak sangat senang, Uminya juga *senyum*. Sekilo lebih langsung habis. 
“Pa besok lagi belinya yang banyak ya!” Protes Mbak Hasna.
“Jangan yg kecil- kecil, jangan yg ijo-ijo,” lanjut Mas Haris.
“Iya yang merah-merah dan besar-besar,” sahut adek Liti tidak mau kalah.
Papanya tertawa.
“Tadi Papa juga bilang sama Mas nya, kok ada yang ijo dan kecil-kecil Mas, Masnya klecam-klecem bilang, lha wong saya belinya juga sama yg ijo dan kecil-kecil  Pak,"
hehehe. Bener juga ya. Aku tertawa geli.
“Tadi juga Papa bilang, lha kayunya seperempat kilo sendiri tuh Mas, Masnya bilang, saya belinya juga dengan kayunya Pak.”
Hehehe. Sekali lagi kami tertawa.
Ya kalau sudah terima beli rambutan dengan apa adanya, ada yg besar, kecil, ijo juga ada kayu, yaa sudah.  Kalau tidak terima yaa tidak usah beli. Iya kan? 
Persis saat suami menikahi istrinya bukan? Suami menerima istri dengan segala kelebihan dan kekurangannya begitu juga istri menerima suami dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kalau kecil dan ijonya rambutan klengkeng dianggap suatu kekurangan, tapi tetep saja manis, itu artinya kekurangan suami atau istri itu tetap bagus seperti rambutan klengkeng yang tetep “manis.”
Artinya seseorang yang sudah menikah, pasti akan menjumpai kekurangan pada pasangannya, misal suami ternyata tidurnya ngorok atau suami hapalannya hanya Qul Hu saja kalau mengimami sholat. Istri ternyata tidak pandai memasak. Tetapi bagi sepasang suami-istri yang sudah ridho tentu kekurangan itu akan tetap manis. Karena akan menjadi ladang ibadah mereka. Untuk saling menerima dan bersama-sama saling membantu dalam mengelola dan meminimalkan kekurangan tersebut. Dan bahkan memperbaiki menjadi lebih baik.
Semoga kita termasuk suami-istri yang terus belajar ridho untuk menerima pasangan kita dengan segala ketidak sempurnaannya. Bukan suami-istri yang sibuk mencela kekurangan satu sama lain, bukan suami-istri yang saling menuntut menjadi lebih baik tetapi suami-istri yang bersama-sama saling membantu dan saling mendukung untuk menjadi lebih baik. Aamiin.
Kesimpulannya adalah:
Menikah itu seperti membeli rambutan klengkeng, jadi jangan pernah meminta pasangan kita untuk membeli rambutan klengkeng, karena itu sama saja minta pasangan anda menikah lagi...#Ehh..hihi..
Kabur ahh...(takut dilempar sandal....) *Hehehe*


Tidak ada komentar:

Posting Komentar