Suatu
saat Beliauku bawa oleh-oleh rambutan klengkeng. Rambutan klengkeng adalah
rambutan yang sangat manis, meski masih hijau rasanya tetap manis. Munkin tulah
kenapa disebut rambutan klengkeng. Anak-anak sangat senang, Uminya juga
*senyum*. Sekilo lebih langsung habis.
“Pa besok lagi belinya
yang banyak ya!” Protes Mbak Hasna.
“Jangan yg kecil- kecil,
jangan yg ijo-ijo,” lanjut Mas Haris.
“Iya yang merah-merah
dan besar-besar,” sahut adek Liti tidak mau kalah.
Papanya tertawa.
“Tadi Papa juga bilang
sama Mas nya, kok ada yang ijo dan kecil-kecil Mas, Masnya klecam-klecem
bilang, lha wong saya belinya juga sama yg ijo dan kecil-kecil Pak,"
hehehe. Bener juga ya. Aku
tertawa geli.
“Tadi juga Papa bilang,
lha kayunya seperempat kilo sendiri tuh Mas, Masnya bilang, saya belinya juga
dengan kayunya Pak.”
Hehehe. Sekali lagi kami
tertawa.
Ya kalau sudah terima
beli rambutan dengan apa adanya, ada yg besar, kecil, ijo juga ada kayu, yaa
sudah. Kalau tidak terima yaa tidak usah
beli. Iya kan?
Persis
saat suami menikahi istrinya bukan? Suami menerima istri dengan segala
kelebihan dan kekurangannya begitu juga istri menerima suami dengan segala
kelebihan dan kekurangannya. Kalau kecil dan ijonya rambutan klengkeng dianggap
suatu kekurangan, tapi tetep saja manis, itu artinya kekurangan suami atau
istri itu tetap bagus seperti rambutan klengkeng yang tetep “manis.”
Artinya
seseorang yang sudah menikah, pasti akan menjumpai kekurangan pada pasangannya,
misal suami ternyata tidurnya ngorok atau suami hapalannya hanya Qul Hu saja
kalau mengimami sholat. Istri ternyata tidak pandai memasak. Tetapi bagi
sepasang suami-istri yang sudah ridho tentu kekurangan itu akan tetap manis. Karena
akan menjadi ladang ibadah mereka. Untuk saling menerima dan bersama-sama
saling membantu dalam mengelola dan meminimalkan kekurangan tersebut. Dan
bahkan memperbaiki menjadi lebih baik.
Semoga
kita termasuk suami-istri yang terus belajar ridho untuk menerima pasangan kita
dengan segala ketidak sempurnaannya. Bukan suami-istri yang sibuk mencela
kekurangan satu sama lain, bukan suami-istri yang saling menuntut menjadi lebih
baik tetapi suami-istri yang bersama-sama saling membantu dan saling mendukung
untuk menjadi lebih baik. Aamiin.
Kesimpulannya
adalah:
Menikah itu seperti
membeli rambutan klengkeng, jadi jangan pernah meminta pasangan kita untuk
membeli rambutan klengkeng, karena itu sama saja minta pasangan anda menikah
lagi...#Ehh..hihi..
Kabur ahh...(takut
dilempar sandal....) *Hehehe*

Tidak ada komentar:
Posting Komentar